Profil

BATIK BETAWI TEROGONG berdiri pada tanggal 5 September 2012. “Terogong” diambil dari nama suatu kampung di wilayah Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan yang sampai saat ini masih dihuni oleh mayoritas Masyarakat Betawi. Batik Betawi Terogong didirikan oleh sekelompok keluarga Betawi yang peduli terhadap survive-nya kebudayaan Betawi di tengah-tengah Jakarta yang cosmopolitan.

Ciri khas motif batik Betawi Terogong adalah perpaduan antara motif bunga dan buah dengan berbagai kekhasan (peninggalan sejarah, transportasi, dll.) yang ada di DKI Jakarta, antara lain: Ondel-ondel, Monas, Masjid Krukut, Gerbang Amsterdam, Patung Pancoran, Abang None, Buah mengkudu & cermai, Mobil dan sepeda kuno, Alat-alat musik dan tarian Betawi.

Bentuk
Motif bertumpal yang lebih dikenal dengan pucuk rebung sangat popular sebagai ciri khas batik Betawi.

Warna
Pengaruh budaya Cina, warna-warna cerah/terang/ngejreng.

Keberadaan Batik Betawi Terogong bertujuan untuk:

Pertama, upaya memberdayakan ekonomi masyarakat. Kegiatan membatik akan menjadi solusi bagi minimnya peluang kerja dan tambahan pendapatan, khususnya kaum ibu rumah tangga. Apalagi, bekerja sebagai pembatik bukanlah pekerjaan yang sulit karena bisa dilakukan di rumah (home industri) tanpa harus meninggalkan kewajiban sebagai orang tua dalam merawat anak

Kedua, menjadikan Terogong sebagai salah satu kampung wisata batik Betawi. Sebagaimana kita ketahui, saat ini tidak hanya sebagai suatu komoditi, tetapi juga mampu menjadi suatu sentra wisata bagi masyarakat, baik dalam negeri maupun mancanegara. Maka muncullah sentra-sentra batik seperti Setono (Pekalongan), Trusmi (Cirebon). Kondisi ini tidak hanya disaksikan di daerah yang sudah lama menjadi sentra batik, bahkan di daerah lain seperti Bali, Bangka Belitung, tempat-tempat batik menjadi kunjungan wajib para wisatawan.

Berangkat dari pemikiran di atas, diharapkan Batik Betawi Terogong menjadi embrio bagi lahirnya salah satu Sentra Batik di Jakarta. Amin.